Mudeerul ‘Amm Ponpes Model Noor El-Madeenah, Ayah Uung Abu Al-Muhiebby, mengatakan, keberhasilan Aini menjadi hafidzah 30 juz merupakan anugerah sekaligus bukti bahwa ikhtiar pembinaan generasi Qurani yang dilakukan selama ini membuahkan hasil.
Selama 10 tahun membangun madrasah, menjaga santri tetap mengaji, menghadapi berbagai keterbatasan, dan berusaha istiqamah dalam amanah pendidikan.
“Di milad ke-10 ini Allah menghadirkan buahnya dalam bentuk seorang hafidzah yang membawa Al-Qur’an di dalam dadanya,” ujar Ayah Uung.
Menurutnya, keberhasilan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam karena terjadi bertepatan dengan Hari Tasyrik yang identik dengan syukur, dzikir, dan penguatan keimanan. Ayah Uung menyebut, milad tahun ini tidak dirayakan dengan kemewahan, melainkan dengan hadirnya kado terindah dari Allah SWT.
“Allah menghadirkan hadiah terbaik berupa lahirnya seorang hafidzah. Ini menjadi pengingat bahwa rasa syukur yang paling indah adalah ketika Al-Qur’an hidup dalam diri generasi muda,” katanya.
Aini Ambarwati diketahui berasal dari Desa Bojong dan merupakan alumni NORMA.
Keberhasilannya menghafal Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak lain di lingkungan pesantren untuk menekuni pendidikan Al-Qur’an.
Aini menggenapkan 30 Juz Al-Qur’an di Pesantren Tahfidz Maskanul Huffadz Tasikmalaya dalam kurun waktu 9 bulan.
Ayah Uung menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa desa di mana lokasi pesantren berdiri memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an apabila didukung lingkungan pendidikan yang baik dan pembinaan yang berkelanjutan.
Kalau hari ini lahir satu Aini, dia berkeyakinan ke depan akan lahir lebih banyak lagi penghafal Al-Qur’an dari desa ini.
“Kami ingin terus menumbuhkan generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” ungkapnya.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa keberhasilan menghafal 30 juz bukanlah akhir dari perjalanan seorang santri.
Tantangan berikutnya adalah menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Hafidzah bukan titik akhir. Ini adalah awal dari amanah yang lebih besar. Tugas kami adalah menjaga, membina, dan melahirkan Aini-Aini berikutnya agar semakin banyak generasi Qurani yang memberi manfaat bagi umat,” tuturnya.
Memasuki usia ke-10 tahun, Ponpes Model Noor El-Madeenah berkomitmen untuk terus mengembangkan pendidikan berbasis Al-Qur’an dan karakter.
Semangat yang diusung dalam milad tahun ini adalah Satu Dasawarsa Penuh Doa, Terus Berkarya dan Semakin Sederhana, sebagai wujud syukur atas perjalanan panjang pesantren dalam membina generasi Islam di tengah masyarakat.***