KONSTRUKSI POLA PENDIDIKAN ISLAM DARI ERA RASULULLAH SAW HINGGA DINASTI ABBASIYAH
Oleh :
Uung Ibnu Shobari (UIS)
PENDAHULUAN
Pendidikan dalam Islam bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses pembentukan manusia yang utuh: insan kamil. Sejak wahyu pertama turun “Iqra’” di Gua Hira, Islam meletakkan fondasi bahwa umat ini adalah umat yang diperintahkan untuk membaca, menuntut ilmu, dan mentadabburi alam. Kata ” iqra ” adalah kata perintah sesuai dalam qoidah bahasa Arab yang di dalamnya mengandung perintah mutak untuk mengetahui segala sesuatunya harus berdasarkan pemafahaman siapa Rabb / Tuhan sesungguhnya.
Konstruksi pola pendidikan Islam mengalami perkembangan dinamis dari masa Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, Umayyah, hingga mencapai puncak keemasannya pada Dinasti Abbasiyah. Setiap era memiliki ciri khas, kelembagaan, dan metodologi yang lahir dari tantangan zaman sekaligus semangat menjaga dan mengembangkan ajaran Islam. Esai ini akan menguraikan konstruksi pola pendidikan Islam dari era kenabian hingga Abbasiyah dengan melihat aspek tujuan, lembaga, kurikulum, metode, dan tokoh-tokohnya.
Salah satu nilai implementasi pendidikan Islam tersebut, kini tengah diaplikasikan di Ponpes Model Noor El-Madeenah (NORMA, red.) yang tengah dijalankan oleh pendirinya yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan di NAWA Institute. Pada dasarnya karakteristik pola pendidikan Islam khususnya di Indonesia tidak akan jauh dari Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam.
PEMBAHASAN
1. ERA RASULULLAH SAW : FONDASI PENDIDIKAN RABBANI 610 M – 632 M
Pada masa Rasulullah SAW, pendidikan Islam bersifat sangat personal, rabbaniyah, dan berbasis masjid. Tujuan utama pendidikan saat itu adalah _tazkiyatun nafs_ dan _ta’limul kitab wal hikmah_.
a. Lembaga Pendidikan
1. Darul Arqam: Rumah Al-Arqam bin Abil Arqam di Bukit Shafa menjadi sekolah pertama Islam. Di sinilah Rasulullah SAW mengajarkan tauhid secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun masa Makkah. Polanya: halaqah kecil, tertutup, fokus pada iman.
2. Masjid Nabawi: Setelah hijrah, masjid menjadi pusat pendidikan terbuka. Ada _Shuffah_ atau _Ahlus Shuffah_, yaitu serambi masjid tempat para sahabat muhajirin yang fakir tinggal dan belajar 24 jam kepada Rasulullah SAW. Ini cikal bakal sistem asrama pesantren.
3. Pendidikan di Medan Perang: Tawanan perang Badar yang bisa mengajari 10 anak kaum muslimin membaca dan menulis dibebaskan. Ini menunjukkan Islam sangat menghargai literasi.
b. Kurikulum & Metode
Kurikulumnya berbasis Al-Qur’an dan Sunnah. Metode yang digunakan: Talqin, Halaqah, Tanya Jawab, Praktek langsung, dan Uswah Hasanah. Guru adalah Rasulullah SAW sendiri. Outputnya: para sahabat yang rabbani, hafal Qur’an, faham fiqh, dan siap berdakwah.
2. ERA KHULAFAUR RASYIDIN : INSTITUSIONALISASI PENDIDIKAN 632 M – 661 M
Setelah Rasulullah SAW wafat, tantangan umat adalah menjaga otentisitas Al-Qur’an dan memperluas dakwah ke wilayah baru.
a. Konstruksi Baru
1. *Pembukuan Al-Qur’an*: Di era Abu Bakar dan Utsman, Al-Qur’an dibukukan. Ini menjadi “buku teks” utama pendidikan.
2. *Pendirian Kuttāb*: Di setiap kota baru seperti Kufah, Bashrah, Mesir, didirikan _Kuttāb_ untuk mengajarkan baca tulis dan Al-Qur’an kepada anak-anak. Gurunya adalah para sahabat yang diutus Umar bin Khattab.
3. *Perluasan Fungsi Masjid*: Masjid tidak hanya untuk ibadah tapi juga pengadilan, majelis ilmu, dan asrama. Muncul majelis-majelis ilmu dari para sahabat besar seperti Ibnu Abbas di Makkah, Ibnu Mas’ud di Kufah.
b. Ciri Khas: Pendidikan masih sangat sederhana, gratis, dan berbasis komunitas. Guru tidak digaji, hidup dari infaq.
3. ERA DINASTI UMAYYAH : PERLUASAN DAN ARABISASI ILMU 661 M – 750 M
Dinasti Umayyah memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus. Tantangannya adalah mengelola wilayah luas dengan berbagai bangsa non-Arab.
a. Konstruksi Pola Pendidikan
1. *Bahasa Arab sebagai Bahasa Resmi*: Kebijakan Abdul Malik bin Marwan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa administrasi. Ini memaksa sistem pendidikan untuk mengarabkan bangsa-bangsa baru masuk Islam.
2. *Perkembangan Kuttāb*: Kuttāb menjadi lembaga pendidikan dasar resmi negara. Anak usia 6-14 tahun wajib belajar baca tulis dan Qur’an.
3. *Munculnya Ulama Spesialis*: Muncul mazhab fiqh, qiraat, dan tafsir. Pusat-pusat ilmu mulai muncul di Madinah, Makkah, Damaskus, dan Baghdad.
b. Kelemahan: Pendidikan masih elitis dan berpusat di istana. Belum ada perpustakaan besar.
4. ERA DINASTI ABBASIYAH : PUNCAK KEEMASAN PERADABAN ILMU 750 M – 1258 M
Ini era keemasan pendidikan Islam. Abbasiyah memindahkan pusat ke Baghdad dan menjadikan ilmu sebagai proyek negara.
a. Konstruksi Kelembagaan yang Sistematis
1. *Baitul Hikmah*: Didirikan Al-Ma’mun tahun 830 M. Ini bukan hanya perpustakaan, tapi juga akademi, lembaga penerjemahan, dan observatorium. Para ilmuwan dari Yunani, Persia, India diterjemahkan ke bahasa Arab. Ini cikal bakal universitas riset.
2. *Sistem Madrasah*: Nidzam Al-Mulk mendirikan _Madrasah Nidzamiyah_ di Baghdad tahun 1065 M. Ini lembaga pendidikan tinggi pertama dengan kurikulum, guru bergaji negara, asrama, dan ijazah resmi. Lahirlah sistem “fakultas”.
3. *Masjid-Jami’ dan Majelis*: Masjid tetap jadi pusat halaqah. Muncul _silsilah sanad_ ilmu yang kuat.
4. *Perpustakaan Umum*: Hampir tiap kota besar punya perpustakaan. Ilmuwan bisa pinjam buku gratis.
b. Kurikulum Abbasiyah
Terbagi 2:
1. *Ilmu Naqliyah*: Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Tafsir, Bahasa Arab.
2. *Ilmu Aqliyah*: Filsafat, Kedokteran, Matematika, Astronomi, Kimia. Tokohnya: Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Razi.
Ini menunjukkan Islam tidak memisahkan ilmu agama dan ilmu umum.
c. Metode: Diskusi Ilmiah, Munazarah, Eksperimen, Penerjemahan, dan Penelitian. Guru disebut Syaikh dan murid disebut Thalib. Ada sistem ijazah sanad untuk menjamin keaslian ilmu.
d. Ciri Khas Abbasiyah: Negara hadir penuh. Khalifah memberi dana besar. Ilmuwan dihargai setara emas. Baghdad menjadi “kota 1001 ilmu”.
ANALISIS PERBANDINGAN KONSTRUKSI
Masa Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah
Tujuan
Tazkiyah & Iman Penjagaan Qur’an & Dakwah Arabisasi & Administrasi Kemajuan Ilmu & Peradaban
Lembaga
Darul Arqam, Shuffah, Masjid Kuttāb, Masjid Kuttāb, Istana Baitul Hikmah, Madrasah, Perpustakaan.
Kurikulum
Qur’an dan Sunnah Qur’an, Fiqh Dasar Qur’an, Bahasa, Fiqh Naqliyah dan Aqliyah
Metode
Uswah, Halaqah Ceramah, Hafalan Ceramah Klasikal Diskusi, Riset, Terjemah
Sumber Dana
Infaq Pribadi Baitul Mal Baitul Mal Negara dan Wakaf
Terlihat jelas ada evolusi: dari informal-personal- institusional-sederhana- negara-sentris- riset-universitas.
BUKTI IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA
Setidaknya, bahwa bangsa Indonesia jika kita runut sejak para Ulama Indonesia belajar di Haromain dari deretan Ulama Hijaz seperti Syeikh Nawawi Al-Jawy / Al-Bantany, tentu telah membuktikannya dapat dianut oleh para generasinya.
Catatan penulis, bahwa yang tercatat sekepulangannya para Ulama ke bumi pertiwi telah melahirkan generasi berbasis personal maupun institusional. Deretan yang nyata-nyata ada di generasi mutaakhirin seperti Mas Abdurrahman Mathlaul Anwar, Ahmad Dahlan Muhammadiyah, Hasyim Asyari Nahdlatul Ulama dan juga tokoh-tokoh lainnya.
Kelanjutannya tidak bisa kita pungkiri, bahwa hingga saat ini telah mereka buktikan sebelum Indonesia merdeka, bahwa pendidikan Islam tidak akan keluar dari panji-panji Islam dan norma-norma hukum syariah dan hukum positif.
PENUTUP
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konstruksi pola pendidikan Islam mengalami perkembangan yang sangat sistematis.
1. *Era Rasulullah SAW* meletakkan fondasi spiritual dan metodologi dasar: pendidikan berbasis masjid dan keteladanan.
2. *Era Khulafaur Rasyidin* menginstitusionalisasikan pendidikan dasar melalui Kuttāb dan menjaga sumber utama: Al-Qur’an.
3. *Era Umayyah* memperluas jangkauan pendidikan untuk mengelola negara besar dan mengarabkan ilmu.
4. *Era Abbasiyah* mencapai puncaknya dengan lahirnya universitas, perpustakaan, dan integrasi ilmu agama dengan ilmu umum. Negara hadir sebagai sponsor utama.
Pelajaran penting bagi kita hari ini, khususnya bagi lembaga seperti NORMA: pendidikan Islam yang kuat harus memadukan 3 unsur: Spiritualitas era Nabi, Kesederhanaan era Sahabat, dan Kemajuan Kelembagaan era Abbasiyah. Tanpa ruh, lembaga akan kering. Tanpa lembaga, ruh tidak akan menyebar.
Semoga konstruksi pendidikan Islam ini bisa kita hidupkan kembali di *Kampung Santri Cijantung Bojong* untuk mencetak kader PANGLIMA (Paguyuban Angkatan Lintas Alumni Madeenah Antarbangsa) yang tidak hanya hafal Qur’an tapi juga menguasai bahasa dan sains dunia.
Daftar Pustaka Singkat
1. Al-Qur’anul Karim
2. Al-Qardhawi, Yusuf. Al-Tarbiyah Al-Islamiyah wa Madrasatuhu.
3. Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam.
4. Tafseer Jalalain
5. Kitab Hadits Bulughol Marom
6. Syalabi, Ahmad. Sejarah Pendidikan Islam.
7. Situs Resmi Profil Noor El-Madeenah – Ponpes Model Madeenah
